trinity_logo_web.png
Menu
KONSER DEKADE AFGAN DI JAKARTA

Jakarta, 27 Mei 2019. Menandai 10 tahun berkarier di dunia musik, Afgansyah Reza telah mempersiapkan konser Dekade-nya di Indonesia. Menyusul kesuksesan konser Dekade di Malaysia, Afgan memastikan konsernya kali ini akan berbeda dan dengan suguhan yang lebih menarik dari sebelumnya. “Senang sekali rasanya bisa menyelenggarakan konser yang sudah direncanakan sejak tahun lalu. Ini merupakan tanda terimakasih atas dukungan Afganisme selama satu Dekade terakhir. Jadi, pastinya konser ini akan sangat spesial bagi saya dan juga bagi penontonnya nanti,” ungkap Afgan.

Berlokasi di Istora Senayan, konser Afgan di Indonesia ini akan diselenggarakan pada tanggal 9 Agustus 2019. Bekerjasama dengan One Step Forward ID selaku Organize (Promotor), konser Afgan kali ini akan berbeda dari konser-konser sebelumnya. Serangkaian musisi dan juga desainer telah bergabung untuk menyempurnakan konsernya kali ini.

Untuk Pembelian Tiket pre-sale konser ini bisa di beli secara online melalui mitra penjualan tiket resmi  di situs tiket.com pada tanggal 29 Mei 2019 jam 12.00 siang. Tersedia 5 pilihan kategori tiket, konser ini rencananya akan dijual mulai dari harga Rp. 350.000 sampe dengan Rp 750.000,-untuk tiket pre-sale. Semua harga tiket belum termasuk pajak pemerintah sebesar 10% dan biaya jasa pelayanan.

Untuk informasi terbarudan detail tentang tiket, para fans dapat mengunjungi situs www.konserdekadeafgan.com jangan lupa melakukan pre-registrasi untuk mendapatkan kesempatan Pre-sale di hari pertama pembelian nanti. Jadi Pastikan Anda tidak kehabisan tiket Konser Dekade Afgan di Indonesia ya!

HEAVEN (Dipha Barus Remix Featuring A. Nayaka) by. Afgan, Isyana Sarasvati, Rendy Pandugo

Pada awalnya, remix identik dengan genre musik hip-hop dan electronic dance music (EDM). Namun, kini remix berubah menjadi hal yang sangat umum.  Remix memberikan alternatif pada sebuah lagu, diubah dalam bentuk lain lintas genre namun tetap dalam satu rangkaian nada.  Seringkali, remix memasukkan unsur electronic music dan menyertakan feature artist.

Remix memungkinkan sebuah lagu terdengar sepenuhnya baru, segar, namun tetap familiar.  Hal ini berlaku pada lagu ‘Heaven’ milik trio AIR – Afgan, Isyana Sarasvati, dan Rendy Pandugo – dengan treatment dari disk joki sekaligus produser musik, Dipha Barus, bersama rapper A. Nayaka.

Ubahan Lagu Akustik dalam Format Dance Track

Alhasil, ‘Heaven’ versi original yang identik dengan nuansa akustik nan simple kini berubah total menjadi dance track yang begitu ciamik di tangan Dipha Barus.  Bebunyian unik khas Dipha membalut lagu bertema lovey dovey ini sehingga berada di level berbeda.

Konsep remix ‘Heaven’ tercetus atas keinginan menyajikan lagu dalam dua format  berbeda untuk dibungkus dalam sebuah mini album. “Satu satunya nama yang  muncul adalah Dipha Barus. Kebetulan, kita bertiga (Afgan, Isyana, Rendy) memang penggemar karya–karyanya.  Tidak ada orang yang lebih tepat untuk menginterpretasikan single pertama Project AIR ini selain dia. Saat dihubungi, Dipha juga menyambut gembira dan menyanggupinya”,  cerita Afgan tentang awal mula penggarapan proyek remix ini.

“Terus terang, saya suka dengan ‘Heaven’ sejak awal rilis. Konsep tiga penyanyi yang  bergabung dalam Project AIR sangat menarik dan vibe lagunya yang  chill memberikan banyak celah untuk tambahan sound. Tak ada alasan untuk tidak menerima tawaran me-remix lagu ini.  Sangatlah menyenangkan mengerjakan proyek ini karena saya dibebaskan untuk bereksplorasi.  Saya menggarapnya di berbagai kesempatan, di studio rumah, di sela–sela jadwal tour, bahkan mengerjakannya sembari live di social media”, begitu Dipha Barus bercerita.

Sentuhan Ciamik Hadirkan Versi Baru ‘Heaven’

Pada versi remix ‘Heaven’, Dipha Barus memakai beberapa sound, groove dan beat baru,  diambil dari sound bank karya Dipha Barus yang begitu kaya dan unik.  Jika diteliti, terdengar bebunyian alat musik tradisional Indonesia seperti gamelan, gong dan alat musik lainnya.

Secara spontan, Dipha Barus juga memiliki ide mengajak  A. Nayaka untuk memperkaya lagu dengan bait rap supaya hasil remix ini sepenuhnya berbeda dari proyek terdahulu.  Nayaka menyambut antusias, menciptakan verse untuk melengkapi ‘Heaven’ remix yang  dikerjakan dalam waktu yang relatif singkat.

“Di bagian verse, saya mengekpresikan arti “heaven with your significant other” yang memang sangat berarti buat saya. Ada line yang menyebut “probably still drive you around ‘round the time i’m 65”, di mana sebenarnya merupakan penghargaan untuk The Beatles “When I’m 64”. Lagu itu menjadi salah satu lagu cinta terbesar bagi saya”, cerita A. Nayaka tentang keterlibatannya dalam ‘Heaven’ remix.

“Saya tidak menyangka lagu ‘Heaven’ ternyata bisa dibuat dalam versi berbeda.  Lagunya jadi lebih seru berkat beat yang dibuat Dipha Barus. Gokil!  Saya sangat gembira bisa berkolaborasi dengan dua musisi jenius dan menginspirasi seperti Dipha Barus dan A. Nayaka”  ungkap Rendy Pandugo saat mendengarkan ‘Heaven’ versi remix pertama kalinya.

“Benar sekali! Tidak ada complain dan revisi berarti dari kita bertiga sejak pertama kali  mendengarkan hasil remix. Lagu ‘Heaven’ kini memiliki dimensi yang semakin luas, serta tak hanya cocok untuk suasana pagi dan sore karena bisa membawa kita berdansa di malam hari.  Tambahan rap dari A. Nayaka juga memberikan kejutan seru’, begitu komentar Isyana Sarasvati.

Pada akhirnya, kita tak bisa menebak perjalanan yang ditempuh oleh sebuah karya seni.  ‘Heaven’ yang pada awalnya memiliki nuansa akustik kuat, kini menjelma sebagai dance track yang begitu mengesankan dan kaya rasa.

 

Afgan, Isyana Sarasvati, RendyPandugo – Heaven (DiphaBarus Remix) feat A. Nayaka

 

Composer : Afgan, Isyana Sarasvati, RendyPandugo

Writer (Rap): A.Nayaka & Matter Mos

Keyboard by Harris Pranowo

Rap: A. Nayaka

Nayaka vocal recorded by Adit at BRO’S Studio

Produced / Remixed by DiphaBarus

Co-Produced by Kayman & Mbe Sheehan

Mixed by Kayman, Dipha Barus, Jonathan Pardede at Heartfelt Studio

Mastered by Sam, London

 

“FEEL SO RIGHT” Self-Empowerment Anthem dari Trio Paling Bersinar di IndustriMusik Tanah Air

Kolaborasi adalah hal paling common di industri musik. Baik musisi sealiran maupun lintas aliran bekerja sama melahirkan karya segar, otentik dan berbeda dari karya yang biasa mereka produksi. Kolaborasi memberikan tambahan tangan, pendengaran, ide kreatif, dan akses sesama seniman untuk melahirkan karya baru yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Kolaborasi pun tidak hanya biasa dilakukan antar musisi namun juga dengan para brand terkemuka untuk kian menguatkan relevansi dari pesan yang ingin disampaikan.

Pengalaman kolaboratif ini terjadi pada 3 musisi kenamaan Indonesia; Afgan, Isyana Sarasvati danRendy Pandugo. Dipertengahan Februari tahun 2018 silam, ketiganya meluncurkan single berjudul “Heaven”, sebuah lagu manis bernuansa akustik yang awalnya menjadi project kerjasama antara Afgan dan Rendy Pandugo dalam pembuatan materi, lalu berubah menjadi kolaborasi 3 musisi melalui hadirnya Isyana Sarasvati yang terjadi secara spontan.

“Heaven” merupakan persembahan berbeda bagi ketiga musisi. Tanpa diduga, lagu ini memenangkan hati penggemar dari masing–masing musisi dan penikmat musik secara umum. Sampai sekarang, “Heaven” telah didengarkan hingga 11 juta kali melalui platform musik digital, sedangkan music video dan video lyrics telah dinikmati oleh lebih dari 4,8 juta kali di YouTube. Bersamaan dengan luasnya distribusi karya ini, ketiga musisi juga meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia dan SCTV Music Awards.

 

Hal membahagiakan lain dari ketiga musisi adalah reaksi para penikmat musik saat masing-masing individu membawakan lagu “Heaven” di berbagai panggung. “Awalnya sedikit ragu membawakan “Heaven” tanpa Isyana dan Rendy, tapi melihat animo penonton yang begitua ntusias dan ikut bernyanyi akhirnya meyakinkan saya bahwa lagu ini dicintai banyak orang”, ungkap Afgan.

Hal yang sama juga dirasakan pada penampilan individu dari Isyana Sarasvati dan Rendy Pandugo yang selalu memasukkan “Heaven” pada set list performance. Tidak itu saja, lagu ini juga membawa ketiga musisi iniuntuk tampil dipanggung We The Fest dan Ramadhan Jazz Festival 2018.

Ajakan Aktualisasi Diri Bersama Zilingodan Project AIR melalui ‘Feel So Right’

Memasuki tahun 2019, kolaborasi Afgan, Isyana Sarasvati danRendy Pandugo memasuki fase baru melalui Project AIR dengan garapan yang semakin serius, salah satunya dengan adanya kolaborasi kreatif dengan platform fesyen dan gaya hidup terdepan, Zilingo. Sebuah Extended Play telah dipersiapkan oleh ketiganya di tengah aktivitas dan sulitnya menyatukan jadwal dari masing-masing individu.

Melalui single pertama dari EP berjudul “Feel So Right”, garapan dibuat berbeda dari“Heaven”. Jika single terdahulu menyajikan nuansa akustik yang kuat, “Feel So Right” diproduksi dengan treatment musik berbeda dan penuh irama sehingga tak akan membiarkan semua penggemarnya hanya berdiam diri.

Semangat self-empowerment dari lagu “Feel So Right” juga sejalan dengan pesan #SiapaSihLo milik Zilingo. Sebagai platform terkemuka di bidang fesyen dan gaya hidup, Zilingo secara aktif mendorong para pelanggannya untuk selalu mengekspresikan diri mereka yang luar biasa melalui gaya pilihan mereka. Melalui lebih dari dua juta pilihan koleksi yang ada, Zilingo menjadikan proses  pemilihan gaya menjadi mudah diakses bagi semua kalangan.

“Tidak pernah terpikirkan sebelumnya kalau saya bisa menggarap dance track seperti ini karena mungkin menjadi sesuatu yang mustahil jika  dilakukan pada proyek solo. Saat bersama Afgan dan Isyana, vibe dan inspirasinya mengalir ke arah chill dan dance seperti ini, ungkap Rendy tentang proses pemuatan lagu “Feel So Right”.

Lagu ini menggambarkan kegembiraan dan kepuasan yang muncul dari seseorang melalui ekspresi kepercayaan diri yang sebelumnya  mungkin terpendam. Layaknya self-empowerment anthem yang berlaku umum, pemberdayaan terbaik adalah pemberdayaan yang lahir dari dalam diri.  Saat menemukan versi ternyaman pada diri sendiri, kita mulai berekspresi dengan berdansa dan lebih mencintai diri pada setiap langkah, cerita Isyana saat menjelaskan lirik “Feel So Right”.

Chemistry diantara ketiga musisi memang tak terbantahkan lagi, bahkan tak ada yang lebih menonjol dan mendominasi. Uniknya, semua proses  terjadi secara mengalir dan natural. “Banyaknya kesamaan preferensi dan pemikiran, yang dalam bahasa kita disebut ‘satu frekuensi’  sepertinya menjadi kunci langgengnya trio ini”, begitu Afgan bercerita tentang keseruan bekerja sama dengan Isyana dan Rendy. “This project obviously the most fun project that I’ve worked to”.

Sekali lagi musik membuktikan bahwa ia adalah bahasa yang universal, menembus berbagai halangan dan berbedaan,  bahkan membuka kesempatan untuk bereksplorasi lebih. Pada kasus trio Afgan, Isyana, Rendy adalah brand Zilingo yang menjadi partner dalam menyebarkan pesan pemberdayaan diri.

“Fesyen dan musik sering kali menjadi media bagi seseorang untuk menunjukkan kepribadian mereka. Menyadari hal ini,  Zilingo tidak dapat memikirkan figur yang lebih baik dari Afgan, Isyana, dan Rendy untuk membantu mendukung pesan #SiapaSihLo milik kami. Masing-masing musisi berbakat ini merupakan panutan bagi jutaan orang di Indonesia dengan gaya pribadi mereka sendiri, dan itu mengalir melalui musik mereka. Melalui “Feel So Right”, kami berharap dapat menginspirasi semua orang untuk mulai mengekspresikan diri mereka yang luar biasa melalui media  pilihan mereka, baik itu melalui fesyen, musik, seni atau medium lainnya, ” kata Sarah Humaira, VP dan Head of B2C Marketing, Zilingo.

 

Spirit SelfEmpowermentMelalui Irama dan Visual

Finalisasi musik “Feel So Right” diserahkan kepada produser musik asal Swedia bernama Harry Sommerdah yang sebelumnya pernah menangani lagu-lagu dari GAC. Ditangan sang produser, “Feel So Right” menjelma menja di dance track yang catchy dan ekspresif sehingga sangat  mustahil untuk diabaikan. Terlebih lagi, terdapat petikan gitar yang sangat khas dari Rendy Pandugo.

Sementara itu, visual “Feel So Right” diserahkan kepada photographer/director handal Davy Linggar. Pengambilan gambar untuk music  video dan photoshoot dilakukan di Tokyo, Jepang. Dengan tim yang relatif kecil, Project AIR mengeksplorasi keindahan kota Tokyo di area yang yang tidak terlalu touristic.

Pada video musik, Afgan, Isyana, Rendy terlihat berjalan di kawasan Ropongi, Ueno Station, Omotesando dan Aoyama. Dengan teknik editing yang banyak memperlihatkan pergantian antar individu pada lokasi yang sama menjadikan hasil akhirnya terkesan begitu dinamis dengan spirit  pemberdayaan diri yang sangat kuat.

Sebelumnya, Davy Linggar sempat bekerja sama dengan Afgan dan Rendy Pandugo pada penggarapan musik video secara solo, namun bagi Isyana menjadi kali pertamanya. “Afgan, Isyana, Rendy adalah 3 artist yang  seru untuk bekerjasama dan mudah diarahkan karena sudah memahami konsep dan visi yang ingin kita capai. Bahkan, perpindahan lokasi dalam suhu cuaca yang cukup dingin tidak menjadi halangan”, begitu Davy bercerita.

 

Feel So Right by Afgan, Isyana Sarasvati, RendyPandugo

Verse:

Never have I been this way

Look at me now I’m ready to sing and sway

Superstardom one step away

You will be amazed

Now its time for my brand new day

Time to shine cos I wont let this fade to grey

Telling my emotions to say

I bring out the best of me

lemme out and you will see

Never ever gonna see my,

Never ever gonna see my night

(When) All I see is light

ALRIGHT!

Never ever gonna see my,

Leave it for another day,

All I see is light,

Alright!

REFF

Hold me tight, come and

Dance with me all night,

And let our heart’s desire

Feel so right

You and I, no we’ll never be apart

I’ll make it last forever

Feel So Right by Afgan, Isyana Sarasvati, RendyPandugo

Composed by Isyana Sarasvati, RendyPandugo, Afgan

Music Produced by Harry Sommerdahl

Mixed by Harry Sommerdahl at Limestone Studio

Mastered by Stephan Santoso at Slingshot Studio

Published by Sony Music Entertainment Indonesia/Massive Music Entertainment

Lagu Sudah Sukses Bikin Youtuber asal Puerto Rico ini Melting

 

Baru-baru ini Afgan mengunggah sebuah video reaction di akun social medianya. Di dalam postingan tersebut, dua orang perempuan asal Puerto Rico menampilkan reaksinya saat menyaksikan video klip “Sudah”.

Dalam video tersebut, perempuan pemilik akun Youtube “Angelita” ini mengungkapkan rasa kagum yang berlebihnya. “He’s one of the most popular singer from Indonesia, and I think you gonna see why, because his voice is mighty fine, and he is good looking fella too,” ungkap Angelita di awal video. Ini bukan kali pertama Angelita membuat video reaction kepada Afgan. Sebelumnya, Angelita juga sempat membuat video reaksi untuk lagu “Heaven”. Dan dalam video reaksi tersebut, Angelita langsung jatuh hati dengan suara Afgan.

Dan Angelita tidak sendirian, sepanjang kariernya Afgan, lagu-lagu yang yang ia bawakan banyak mendapatkan atensi dari penikmat musik asing. Mulai dari Korea Selatan, Belanda, bahkan sampai ke Amerika Serikat. Buat kamu yang juga mau bikin video reaksi musik video Afgan, yuk tonton klipnya di:

Afgan Tampil di Hyperplay

 

 

Pelantun lagu Sudah, Afgansyah Reza kini kian melambungkan namanya lewat beberapa event festival internasional. Setelah tampil bersama Isyana Saravati dan Rendy Pandugo di festival We The Fest, pada tanggal 22 Juli lalu, Afgan dijadwalkan tampil di panggung MTV Hyperplay di Singapura.

Hyperplay sendiri merupakan event pertama di Asia Tenggara yang mengkombinasikan sebuah games mobil dengan festival musik. Berlokasi di Singapore Indoor Stadium, acara ini akan dimeriahkan oleh beragam musisi internasional. Mulai dari grup pop asal Singapura, The Sam Willows sampai Korean Superstar seperti CL dari tanggal 4 – 5 Agustus 2018. Afgan sendiri akan perform langsung dengan membawakan beberapa lagu hitsnya di tanggal 5 Agustus.

Penasaran enggak sih sama penampilan Afgan nanti? Kita sama-sama tunggu aja ya!

 

New Release: Afgan “Sudah” “Ketika Pisah Pilihan Terindah”

 

Perasaan tak selamanya berbalas. Saat hubungan yang dijalani perlahan kehilangan percikan cinta, kadang pilihan terbaik adalah menerima kenyataan dan move on untuk kehidupan yang lebih baik.

Sekiranya hal itulah yang bisa menggambarkan single terbaru dari Afgan yang berjudul “Sudah”. Single ketiga dari album DEKADE ini memiliki nuansa yang lebih kelam dari lagu-lagu Afgan sebelumnya. Dengan mengandalkan suara piano yang kental dengan nuansa power ballad, lagu ini diyakini bisa menjadi lagu perpisahan untuk banyak orang.

 

TEMA LAGU YANG KELAM

“Enggak semua hubungan berjalan baik. Kadang ada juga hubungan yang memang sudah enggak bisa diperjuangkan lagi dan harus segera diakhiri. Hal yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah menerima kenyataan tersebut dan melanjutkan hidup,” ungkap Afgan. “Dari situlah inspirasi lagu ini tercipta. Dan, harapannya, bagi siapapun yang mendengarkan, bukan untuk menyuruh mereka jadi mudah menyerah dengan hubungan, tapi justru bisa memberikan energy positif untuk berani mengakhiri agar kedepannya hidup bisa lebih baik,” jelasnya.

 

Bersama Inu Numata, Simhala Avadana, dan Kitut, Afgan merampungkan lagu ini. “Kebetulan memang kita sudah beberapa kali kerja bareng sih untuk membuat lagu ‘Kunci Hati’ dan ‘Percayalah’. Dan bedanya di lagu ini, Marco Stefianno membantu sebagai arranger di lagu ini,” jelas Afgan. “Waktu itu kita emang lagi di studio dan menggarap album barunya Afgan. Gue berpikir, Afgan harus ada satu lagu ballad yang jadi ciri khasnya Afgan. Tapi, gue sendiri ngerasa level ballad di lagu ini sih lebih berat dibandingkan lagu-lagu Afgan sebelumnya. Makanya kita minta Marco Steffiano untuk mengaransemen lagunya karena pas banget sama nuansa gloomy di lirik ini,” ungkap Mhala selaku A&R dari Trinity Optima Production.

 

KAYA GAMBAR CINEMATIK

Untuk pertama kalinya, Afgan bekerjasama dengan Davy Linggar dalam penggarapan musik video “Sudah”. Pada kesempatan kali ini, Davy Linggar memilih Turki sebagai lokasi syutingnya. “Yang milih lokasi di Turki itu mas Davy sendiri sih ya. Dan pas kita nyampe di sana emang pas banget nuansa kelam dari lagu ini. Musik videonya benar-benar bisa membuat yang nonton ikut berimajinasi ke dalam lagunya. Suka banget sama hasilnya,” papar Afgan.

Dari Davy Linggar sendiri, Instanbul, Turki bukanlah pilihan pertamanya. Ia mengaku sempat terbesit kota Paris untuk penggarapan musik video ini. “Sejujurnya kota pertama yang saya terbayang saat mendengarkan lagu ini adalah kota Paris. Tapi setelah didengarkan berulang-ulang dan juga melihat referensi yang ada di Paris, saya merasa masih ada yang kurang dari jika kita menggarap musik videonya di kota ini,” papar Davy. “Dan kebetulan beberapa bulan sebelum saya mendapatkan tawaran untuk menggarap musik video ini, saya sempat ke Turki dan saya rasa mood yang ingin ditampilkan di lagu ini sangat cocok jika digarap di Istanbul. Akhirnya saya mengajukan pilihan  itu dan disanggupi oleh Afgan dan Trinity Optima Production,” tambahnya.

Ini merupakan kali pertama bagi Davy Linggar untuk bekerja sama dengan Afgan. Dan selama dua hari proses syuting di Instanbul, Davy sangat menghargai waktu yang diberikan oleh Afgan. “Saya sudah lama mendengar nama Afgan di dunia musik. Jadi, saat menggarap video klip ini, kurang lebihnya saya sudah cukup tahu bagaimana karakternya dia. Dan, selama proses syuting, Afgan cukup menyenangkan. Dan kebetulan tempat yang kita ambil juga tempat yang tidak terlalu ramai. Jadi semua berjalan lancar saja,” ungkap sang maestro visual ini. Kekaguman yang sama juga dimiliki oleh Afgan kepada Davy Linggar. “Nama Davy Linggar sih sudang sangat populer terutama dalam membuat visual. Dan yang saya suka dari video klip ini, mas Davy banyak memilih lokasi dengan pemandangan kota dan juga pemandangan alamnya yang mampu meng-enhance musiknya. Mas Davy mampu membuat perjalanan kami menjadi sebuah visual dengan cinematic yang luar biasa,” tambahnya.

Penasaran seperti apa sih musik video Afgan yang terbaru? Yuk, tonton langsung videonya dibawah ini. Lagunya sendiri sudah bisa didengarkan di radio seluruh Indonesia dan juga lagunya juga sudah tersedia di digital streaming kesayangan Anda.

 

 

 SUDAH (Lirik)

Tak perlu kau katakan

Isi hatimu

Semua telah tersirat

Di dua matamu

 

Simpan s’gala upaya

Tuk buatku percaya

Semua baik adanya

 

Terluka

Sendiri kupendam segala rasa

Karna aku tak bisa

Mengharapkan cinta yang tak akan pernah ada

 

Sudah

Kini ku melepaskan

Cinta

Yang dulu kubanggakan

Aku sadari semua ini

Memang bukan salahmu, aku tahu

 

Kamu bukan untukku

 

Ku kan melupakanmu walau tak bisa mudah

Ku kan bertahan, sudah

Composed by AFGANSYAH REZA / INU NUMATA / KITUT / SIMHALA AVADANA

Published by PT. MASSIVE MUSIC ENTERTAINMENT / PT. SONY MUSIC ENTERTAINMENT INDONESIA

Music Produced by MARCO STEFFIANO

Drums, Guitar, Synth & Programming by MARCO STEFFIANO

Bass by RISHANDA SINGGIH

Piano by KITUT

String Arrangement by ALVIN WITARSA

Violin by ALVIN WITARSA

Violin by SAPTADI KRISTIAWAN

Viola by ADI NUGROHO

Cello by  PUTRI JUREE

Recorded @Soundverve Std, Jkt Engineered by NICO PUTRA TANUJAYA

Vocal Produced by BOWO ‘SOULMATE’ @BrotherlandStd, JktEngineered by ADIT

Mixed by RAYENDRA SUNITO

©TRINITY OPTIMA PRODUCTION 2018

Afgan Telah Menemukan Cinta Lamanya Kembali

 

Setelah sukses dengan lagu “Heaven” sebagai pembuka single dari album “Dekade”, kini Afgan telah siap dengan suguhan terbarunya, “Love Again”. Lewat lagu ini, Afgan ingin mengajak seluruh penikmat musik Indonesia untuk mengenang kembali perasaan cinta lama dengan nuansa musik 90-an.

 

LAGU THROWBACK

Nuansa beat R&B khas 90-an yang menyatu dengan vokal dari seorang Afgan membuat lagu “Love Again” sangat menyenangkan untuk didengar berulang kali. “Ini salah satu lagu favorit saya di album Dekade, karena di lagu ini saya benar-benar bisa menampilkan musik yang saya sukai,” ungkap Afgan. “Mungkin ini bentuk kerinduan saya terhadap musik 90-an, sehingga menjadi semacam throwback. Karena musik seperti ini lah yang sering saya dengarkan saat kecil dan kurang lebih mempengaruhi gaya bermusik saya hingga hari ini. Dan sejak awal, saya sudah mempercayakan Kitut untuk membuat progressive chord ke dalam lagu ini. Karena selama kerja bareng sama Kitut, saya perhatikan Kitut selalu bisa memberikan elemen RnB 90-an ke dalam musik yang saya inginkan,” tambahnya.

Tidak hanya itu, dalam penggarapannya Afgan memastikan lirik yang ada di lagu ini pun bisa membawa pendengarnya kembali ke musik pop 90-an. “Saya dan Mhala sengaja mencari kata-kata yang biasa digunakan lagu-lagu di 90-an agar lebih terasa lagi kesan throwback nya,” papar penyanyi kelahiran tahun 1989 ini. “Di lagu ini saya sengaja mengusung tema yang cukup sedih di bagian lirik tapi musiknya up beat yang bikin semangat. Optimisme, mungkin adalah satu kata yang bisa menggambarkan lagu ini. Optimis kalau seseorang yang pernah dicintai bisa kembali bersama lagi,” tambahnya.

Menggunakan lirik berbahasa Inggris dan Indonesia, lagu ini mampu menjadi anthem bagi mereka yang masih dalam penantian cinta lama. “Lagu ini menceritakan tentang perasaan seseorang yang masih mengharapkan perasaan yang sama dengan sang mantan kekasih. Perasaan yang mungkin banyak dialami oleh banyak orang”, paparnya.

 

BEAT 90-AN

Awalnya, Afgan sempat ragu untuk memasukan lagu ini ke dalam album “Dekade”. Setelah bolak-balik revisi dan dibuat dua versi musik, akhirnya Afgan mantap memasukan lagu ini ke dalam album Dekade. “Kebetulan kami memang sedang kerja bareng dengan DJ asal Malaysia, Tatsuro Miller. Waktu itu dia mempresentasikan beat-beat snare 90-an yang kebetulan disukai oleh Afgan. Lalu, Kitut hadir dalam lagu ini membantu membuat circle chord, saya dan Afgan membuat notasi dan liriknya,” papar Simhala Avadana selaku A&R Trinity Optima Production. “Dan sudah sejak awal kami sudah setuju kalau konsep lagu ini akan menceritakan tentang perasaan seseorang yang masih hung up dengan mantannya. Baby have I ever crossed your mind? Jadi perasaan yang masih penasaran dengan sang mantan,” tambahnya.

Penasaran seperti apa lagu “Love Again”? Single “Love Again” sudah bisa didengarkan di seluruh radio di Indonesia dan juga telah tersedia di berbagai aplikasi streaming musik. Yuk tonton video klipnya!

LOVE AGAIN (LIRIK)

Percayalah

Hanya kamu yang terpatri di benakku

Tak pernah ada yang lain, singgah di sanubari

 

Pedih hati melupakan kisah kita

Ku disini ,kan slalu

Menanti ,dirimu

Walau waktu permainkan cinta

 

Uh, i still believe in you

I stil believe in us

Will find our love again

 

Uh, i still believe in you

I still believe in us

‘cause love will find a way

 

Mungkin kita memang butuh ruang

Sementara tuk sadari

Betapa rindu ini menyiksa

Karna berpisah darimu

 

Tell me girl, where are you now?

Oh whatchu doin, and who are you with

Tell me

Baby baby have i ever crossed your mind?

 

Ku yakin kau pun merasa

Seperti yang aku rasa

Percayalah cinta

Kan temukan jalannya

I’m still in love with you

 

Composed by TATSURO MILLER / AFGANSYAH REZA / KITUT / SIMHALA AVADANA

Original Publisher(s) by THE REC ROOM SDN. BHD. / PT. MASSIVE MUSIC ENTERTAINMENT / PT. SONY MUSIC ENTERTAINMENT INDONESIA

Sub Publisher(s) by PT. SUARA PUBLISINDO on behalf of UNIVERSAL MUSIC PUBLISHING SDN. BHD. / PT. MASSIVE MUSIC ENTERTAINMENT / PT. SONY MUSIC ENTERTAINMENT INDONESIA

Music Produced by TATSURO MILLER

Vocal Produced by BOWO ‘SOULMATE’ @Backbeat Std, Jkt

Engineered by UCUP

Mixed by ARI ‘ARU’ RENALDI

©TRINITY OPTIMA PRODUCTION 2018

KEJUTAN SHOWCASE DI SATU DEKADE AFGAN

Siapa yang tak kenal Afgan. Musisi yang telah merintis karirnya dari usia 18 tahun ini, baru saja merayakan satu dekade karier musiknya lewat album “DEKADE”. Kumpulan hits terbaiknya selama 10 tahun terakhir terangkum dengan apik dalam album tersebut. “Ini adalah album yang bisa meringkas perjalanan karier saya selama 10 tahun terakhir. Di album ini terdapat 7 lagu lama, 3 lagu remake, dan 4 lagu baru. Adapun tiga lagu remake yang saya pilih yaitu ‘Sadis’, ‘Bukan Cinta Biasa’, dan ‘Bawalah Cintaku’. Lewat tiga lagu inilah nama saya dikenal publik. Dan di album ini, lagu-lagu tersebut di aransemen ulang dengan sound yang lebih kekinian. Sedangkan di empat lagu baru ini saya ingin menunjukkan kalau musik pop yang saya usung saat ini juga dipengaruhi dengan beat-beat R&B 90-an yang memang sudah saya suka sejak lama,” ungkap Afgan.

Dan, untuk merayakan peluncuran album “DeEKADE” dan juga perayaan 10 tahunnya dalam industri musik, Afgan telah mempersiapkan penampilan spesial bagi penggemarnya. Sebuah showcase special bertajuk “Afgan Satu Dekade” akan diselenggarakan pada tanggal 12 April mendatang di Soehanna Hall, Energy Building, Jakarta Selatan. Sebagai partner, JOOX telah mempersiapkan rangkaian acara seru untuk menambah antusias para Afganisme yang ingin menyaksikan penampilan Afgan dan juga berkesempatan membawa pulang uang senilai 10 juta rupiah.

 

Penasaran? Caranya gampang. Cukup membuat playlist lagu Afgan di aplikasi JOOX, lalu share playlist yang sudah dibuat ke akun Facebook dengan menggunakan tanda pagar #JOOXAFGANDEKADE dan mention @JOOX di dalam captionnya. 10 pemenang berkesempatan menyaksikan penampilan Afgan di Showcase “Afgan Satu Dekade” dan satu pemenang favorit akan membawa uang tunai senilai 10 juta rupiah. Program ini hanya berlangsung sampai 30 Maret 2018. Jadi jangan sampai ketinggalan yaa. Untuk info lebih lanjut bisa dilihat di akun instagram @jooxid.

New Album – DEKADE AFGAN “10 Tahun Eksplorasi Jati Diri Musik”

Untuk bisa bertahan di industri musik dalam negeri jelas bukan perkara mudah. Karena dibalik hasil karya-karyanya yang ikonik, tiap musisi memiliki perjuangannya tersendiri dalam menjaga eksistensinya. Tidak terkecuali  Afgan. Musisi yang telah mengawali karier sejak tahun 2008 ini memiliki ceritanya tersendiri untuk mencapai kesuksesannya saat ini.

 

Apa makna album “Dekade” ini untuk Afgan sendiri?

“Ini adalah album yang bisa meringkas perjalanan karier saya selama 10 tahun terakhir. Di album ini terdapat 7 lagu lama, 3 lagu remake, dan 4 lagu baru. Adapun tiga lagu remake yang saya pilih yaitu ‘Sadis’, ‘Bukan Cinta Biasa’, dan ‘Bawalah Cintaku’. Lewat tiga lagu inilah nama saya dikenal publik. Dan di album ini, lagu-lagu tersebut di aransemen ulang dengan sound yang lebih kekinian. Sedangkan di empat lagu baru ini saya ingin menunjukkan kalau musik pop yang saya usung saat ini juga dipengaruhi dengan beat-beat R&B 90-an yang memang sudah saya suka sejak lama.”

 

Setelah 10 Tahun Berkarya, apa yang berubah dari Afgan?

“Enggak ada yang berubah. Saya masih jadi diri saya sendiri. Saya masih memiliki insekuritas yang tinggi, masih enggak percaya diri, masih punya rasa takut. Semua masih ada pada diri saya. Tapi saya sendiri banyak merasa berkembang dari segi musikalitas, performance, dan taste music. Kalau Afgan yang dulu mungkin masih mencari-cari tahu gaya apa yang pas, akhirnya coba tiru sana sini. Setelah 10 tahun, saya sudah di tahap yang tahu apa yang saya mau. Saya juga sudah lebih nyaman untuk menjadi diri sendiri. Dan lebih yakin dengan apa karya yang saya kerjakan.”

 

Apa yang bisa diekspektasikan dari Afganisme ataupun pendengar musik nasional dari album ini?

“Saya berharap mereka bisa melihat perkembangan dan pendewasaan saya dalam bermusik selama 10 tahun terkahir. Saya berharap mereka bisa bernostalgia dengan beberapa lagu lama yang ada di album ini, tapi juga mereka bisa mendengar eksplorasi musik yang saya hadirkan di album ini.”

 

Jika Afgan di tahun 2008 melihat Afgan hari ini, apa yang akan dia rasakan?

“Saya rasa dia akan bangga dengan seluruh proses yang saya jalani hingga hari ini. Karena saya tahu, perjalanan berkarya selama 10 tahun ini tidaklah mudah baginya. Karena Afgan di masa itu punya low self esteem, tidak punya teman dan sangat pemalu. Dan setelah 10 tahun, banyak hal yang telah berkembang dari kepiribadian maupun pemikiran saya. Tapi bukan berarti saya sudah menjadi diri saya yang sempurna, saya merasa masih punya banyak ruang untuk perbaikan. The best is yet to come.

 

Di dalam membuat album kelimanya ini, Afgan tidak sendiri. Bersama Simhala Avadana, selaku A&R dari Trinity Optima Production, dan beberapa arranger pilihan, turut membantu Afgan untuk merampungkan album ini. “Yang saya suka dari album ini, Afgan mau mengeksplorasi ranah musik yang tidak biasa dari album-album dia sebelumnya.” Ungkap Mhala. “Di album ini kita bisa sama-sama dengar Afgan membawakan lagu ‘Sadis’ dengan sentuhan rock blues 80-an, ada juga lagu ‘Love Again’ yang dibawakan dengan lagu upbeat 90-an. Benar-benar sebuah memoar musik yang terangkum dengan apik selama 10 tahun Afgan berkarya,” tambahnya.

 

Dalam pembuatan album ini, Afgan memang lebih detail dan sangat kritis dengan karya-karyanya. Sangat besar peran serta Afgan dalam pembuatan album ini , mulai dari penulisan lagu, pemilihan notasi sampai pemilihan mastering di Inggris. Dan dalam waktu dua bulan, album DEKADE ini pun bisa diselesaikannya. Dan hasilnya sangat memuaskan, nuansa keseluruhan album yang hangat dengan rasa nostalgia yang tinggi bisa dinikmati di berbagai situasi. Berikut trek demi trek yang ada di album ini:

 

Love Again

Untuk pembuka album DEKADE ini, sebuah lagu yang di aransemen Tatsuro Miller menjadi pilihannya. Lagu dengan beat pop R&B khas 90-an menyatu dengan vokal Afgan yang khas membuat lagu “Love Again” ini sangat menyenangkan untuk didengar berulang kali. Menggunakan lirik berbahasa Inggris dan Indonesia, lagu ini mampu menjadi anthem bagi mereka yang masih dalam penantian cinta lama.

 

Sudah

Afgan kembali membawakan lagu power ballad yang menjadi ciri khasnya ke dalam trek kedua, “Sudah”. Di lagu ini, Afgan berhasil memperlihatkan sisi lainnya dalam bermusik. Diproduseri oleh Marco Steffiano, nuansa musik yang sedikit kelam terasa sejak intro pianonya. Lirik lagunya sendiri tak kalah dramatis, lagu ini menceritakan perasaan seorang kekasih yang menyadari kalau pasangannya tidak akan bisa mencintainya seutuhnya. Kisah cinta yang mungkin banyak bisa dirasakan banyak orang.

 

Heaven

Kolaborasi ini merupakan project yang berawal dari sebuah “kebetulan”, dimana Rendy dan Afgan merasa buntu pada sesi workshop penulisan lagu yang sedang mereka lakukan, lalu mereka berinisiatif untuk mengajak Isyana bergabung. Hanya butuh waktu setengah jam, Lagu HEAVEN berhasil dibuat oleh ketiganya dengan konsep simple, ringan, easy listening dengan nuansa yang menebar kebahagiaan. “Lagu HEAVEN ini sendiri bercerita tentang sosok orang yang kita cintai dan setiap kita ada didekat mereka, kita merasa bahagia. Jadi HEAVEN disini merupakan perumpamaan perasaan saat berada didekat orang terkasih,” cerita Isyana mengenai lagu ini.

 

Take Me Back

Tatanan musik yang berbeda dari karya-karya Afgan sebelumnya terdengar lantang di lagu “Take Me Back”. Di lagu ini, aransemen R&B dengan dominasi beat-beat hip hop yang kental, menyatu sempurna dengan vokal Afgan yang khas. Dilengkapi dengan rap lincah dari uprising Indonesian rapper, Ramengvrl, lagu hasil workshop di Malaysia bersama SonaOne ini tidak hanya sarat makna cinta tapi juga cocok untuk menjadi teman lari pagi yang pas.

 

Sadis

Setelah 10 tahun berlalu, lagu “Sadis” akhirnya hadir dengan aransemen yang berbeda. Lagu yang memiliki nilai historis yang cukup tinggi untuk karier bermusik Afgan ini mendapatkan aransemen yang cukup unik. Tanpa meninggalkan alunan piano yang menjadi ciri khasnya, lagu “Sadis” mendapatkan sentuhan rock blues 80-an di bagian refrain-nya. Lewat lagu ini, Marco Steffiano selaku arranger, ingin menyisipkan sisi rock and roll dari Afgan yang selama ini tidak pernah ditampilkannya. Dan hasilnya, menakjubkan!

 

Bukan Cinta Biasa

Di album ini, lagu “Bukan Cinta Biasa” diaransemen dengan sangat hati-hati dan juga detail mengingat lagu ini punya nilai historic tersendiri untuk Afgan. Tanpa meninggalkan karakter asli dari lagu ini sendiri, Ari ‘Aru’ Renaldi memberikan aransemen musik yang berbeda kedalamnya. Suara petikan gitar akustik dan alunan biola yang cukup dominan, lagu “Bukan Cinta Biasa” di album ini menawarkan sesuatu yang terdengar baru tanpa meninggalkan elemen nostalgia yang ada di dalamnya.  Afgan sendiri banyak memberikan nada falsetto nya untuk memaksimalkan kebaruan yang ada di lagu ini.

 

Bawalah Cintaku

Mengaransemen ulang lagu yang sangat dicintai oleh banyak orang bukanlah perkara mudah. Namun Andi Rianto mampu meracik ulang lagu yang sangat ikonik ini dengan gaya bermusiknya yang khas. Alunan nada yang begitu megah dari lagu ini diubah begitu indah dengan menggunakan aransemen sederhana dari piano, strings, woodwinds, tanpa rhythm section. Keelokan liriknya yang romantis kian istimewa dengan kehadiran Sheila Majid dalam lagu ini. Warna suaranya Sheila yang khas berpadu sempurna dengan karakter vokal Afgan. Lagu lama karya Bebi Romeo ini pun terdengar seperti sebuah lagu baru.

 

Knock Me Out

Sebuah lagu bernuansa pop R&B ceria dengan sound yang fresh dan fun, menggabungkan lirik bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang mengekspresikan rasa bahagia saat menemukan cinta sejati. Lagu ini sempat mendulang popularitas di tahun 2015. Mulai dari beragam penghargaan musik Indonesia dan hingga menjadi jingle iklan produk kecantikan di dapatkan lagu ini sendiri. Lagu yang menceritakan tentang penantian yang sudah berakhir karena bertemu dengan seseorang yang sangat spesial di hati. “Ibaratnya seperti menemukan seseorang yang benar-benar membuat saya terpana, merasa cocok dan berjanji tidak akan melepaskannya,“ ucap Afgan.

 

 Kunci Hati

Afgan menulis lagu ini pada 2015 lalu, bersama sahabatnya, Inu Numata. Bernada sederhana, namun melodius. Berlirik indah dan meaningful, dengan olahan musik yang menghenyakkan. Menyuguhkan kisah jatuh cinta yang sederhana, yang kemungkinan pernah dialami banyak orang. Salah satu keistimewaannya adalah dengan terlibatnya olahan aransemen string dari Ari Renaldi yang dieksekusi oleh Budapest Scoring Strings, Hongaria. Membuat kesederhanaan pesan dari lagu ini menjadi lebih bermakna.

 

Percayalah

Suara vokal Afgan yang ikonik selalu mampu kawin dengan sempurna penyanyi pop wanita. Tak terkecuali dengan Raisa. Setelah sukses berduet dengan Rossa lewat lagu “Kamu Yang Ku Tunggu”, kini giliran Raisa, penyanyi berwajah cantik dan bersuara emas yang telah mencuri hati para pencinta musik Indonesia sejak awal kemunculannya yang digaet Afgan untuk berduet. Sebuah kejutan manis bagi pemuja kedua solois papan atas ini. Lagu super romantis yang diaransemen dengan sangat indah oleh Ari Aru Renaldi ini sendiri bercerita tentang cinta sejati, dan sukses dijadikan lagu tema untuk film “London Love Story”. Kolaborasi ini begitu dicintai oleh pendengar musik Indonesia, hal tersebut terlihat dari besarnya jumlah penjualan musik digital. Lagu ini berhasil berada di top song RBT dari tahun 2015 sampai tahun 2017.

 

Panah Asmara

Lagu yang dulu dipopulerkan oleh Alm. Chrisye di tahun 90an, sukses dibawakan ulang oleh Afgan dengan nuansa baru dan lebih fresh. Lagu yang diluncurkan pada tahun 2011 ini berhasil membuat penggemar Afgan terpukau dengan gaya bermusiknya yang berbeda dari biasanya. Jauh dari bayang-bayang melankolis yang pop, untuk pertama kalinya Afgan terdengar enerjetik dalam sebuah produksi musik. Perubahannya yang signifikan begitu dicintai penggemar musik Indonesia. Penghargaan Anugerah Musik Indonesia untuk musik Pop terbaik dan juga mix engineer terbaik di dapatkan Afgan untuk lagu ini.

 

Setia Menunggu

Nada lirih sarat kegelisahan menjadi nadi utama lagu karya Badai Kerispatih yang lantas dimatangkan olahan musiknya oleh gitaris dan produser Tohpati ini. Hanya dihidupkan oleh dialog gesekan cello bernada murung dengan petikan gitar akustik yang seolah menegarkan. Tak diragukan penghayatan vokal Afgan di sini, dan kembali menonjolkan kekuatannya dalam melantunkan lagu-lagu bernada pelan.

 

Kamu Yang Kutunggu

Di tahun 2014, Rossa meluncurkan single keduanya untuk album “Love, Live, & Music”. Di lagu ini, Rossa tak bernyanyi sendiri namun ia menggandeng Afgan sebagai teman duetnya. Walaupun sudah bersahabat sejak lama, lagu ciptaan Alam Urbach ini merupakan single duet perdana Rossa dan Afgan. Lagu ini menceritakan tentang sebuah mimpi dan kepercayaan akan cinta yang membuat penantian terbayar dengan sempurna. Andi Rianto adalah composer musik di lagu “Kamu Yang Ku Tunggu” ini, dengan alunan nada dari piano yang mendominasi lagu ini menjadi semakin romantis. Tipikal lagu yang tepat untuk diputar di momen-momen romantis seperti hari pernikahan atau anniversary. Overall, love is a celebration of life!

 

Jodoh Pasti Bertemu

Lagu yang dirilis tahun 2012 ini memang masih banyak dicintai oleh banyak pendengar musik Indonesia hingga hari ini. Menurut saya jodoh pasti bertemu ini mengajarkan keikhlasan. “Di liriknya lagunya menyatakan kalau kamu bukan jodohku, aku gak mengharapkan dia,” ungkap Afgan. Lagu ini juga sempat mengisi soundtrack film “Madre” di tahun 2013 dan berhasil memperoleh beragam nominasi penghargaan musik baik dari dalam maupun luar negeri.

 

Menyambut direleasenya album “DEKADE” ini, serangkaian vlog behind the scene telah Afgan siapkan untuk penggemarnya di akun Youtube Trinity Optima Production. Mulai dari proses penulisan lagu sampai rekaman ia tampilkan di vlog ini. Dan sebuah video ucapan terima kasih Afgan kepada Afganisme yang selama ini mendukung kariernya juga telah ia siapkan untuk merayakan peluncuran album “DEKADE” ini. Albumnya sendiri telah diluncurkan pada tanggal 21 Februari lalu di seluruh platform digital. Selain itu, pastinya, penjualan CD album “DEKADE” dari Afgan dijual secara eksklusif di KFC seluruh Indonesia.

 

Kolaborasi 3 Pop Star, Afgan, Isyana, dan Rendy Bersatu Dalam Heaven

Afgan, Isyana, Rendy - Lagu Heaven

Valentine’s Day tahun ini dirasa sangat berbeda untuk penyanyi Afgansyah Reza, Isyana Sarasvati, dan Rendy Pandugo. Untuk pertama kalinya mereka berkolaborasi dalam 1 project yang sama yaitu sebuah lagu berjudul ”HEAVEN” yang dirilis pada tanggal 14 Februari 2018.

Kolaborasi ini merupakan project yang berawal dari sebuah “kebetulan”, dimana Rendy dan Afgan merasa buntu pada sesi workshop penulisan lagu yang sedang mereka lakukan, lalu mereka berinisiatif untuk mengajak Isyana bergabung. Dalam waktu hanya setengah jam, Lagu HEAVEN berhasil dibuat oleh ketiganya dengan konsep simple, ringan, easy listening dengan nuansa yang menebar kebahagiaan.

Tanggal 14 Februari merupakan tanggal yang dipilih untuk merilis lagu ini karena lagunya sangat menggambarkan cinta yang tidak rumit, simpel dan membawa perasaan bahagia.

“Lagu HEAVEN ini sendiri bercerita tentang sosok orang yang kita cintai dan setiap kita ada didekat mereka, kita merasa bahagia. Jadi HEAVEN disini merupakan perumpamaan perasaan saat berada didekat orang terkasih” cerita Isyana mengenai lagu ini.

“Harapannya sih dengan lagu ini, orang-orang mulai lagi menebar kebahagiaan, bahwa cinta tidak perlu dibuat rumit “ kata Rendy.

“Kita pengennya bahwa kolaborasi ini bisa diterima dengan baik oleh masyarakat dan juga diharapkan bisa menembus pasar ASIA, karena lagu ini akan dirilis di 3 Negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapore. Itupula alasan kenapa lagu ini dibuat dalam bahasa Inggris “ ujar Mahavira Wisnu selaku A&R Director Sony Music Entertainment Indonesia.

 

HEAVEN adalah Kolaborasi 3 Artist dan 2 Label

Dalam kurun waktu hanya 3 bulan dari mulai membuat lagu hingga rekaman, project kebetulan dari ketiga pop star ini merupakan perdana dalam dunia musik. Memiliki kekuatan karakter dari masing-masing penyanyi diharapkan dapat memberikan suguhan musik yang berbeda untuk masyarakat.

Perbedaan label yang menaungi 3 artist ini tidak menjadi penghalang untuk berkolaborasi. Isyana dan Rendy berada pada Sony Music Entertainment Indonesia sedangkan Afgan berada dibawah naungan Trinity Optima Production. Tidak ada halangan tidak ada batasan, karena sejatinya musik adalah senjata yang bisa menyatukan bukan memisahkan. Dengan musikalitas dan karakter berbeda dari 3 artist ini akhirnya tercipta karya kolaborasi yang apik.

Pada tanggal 21 Februari 2018 nanti, lagu HEAVEN akan dihadirkan dalam sebuah bentuk pertunjukan live music yang akan di gelar di The Pallas Jakarta.

 

Afgan, Isyana dan Rendy yang Saling Mengagumi

“Personally gw sangat mengagumi dua-duanya, bahkan waktu workshop bareng Rendy sempet ngerasa gak pede karena Rendy jago banget main gitarnya. Intinya mereka talented dan seru banget“. ujar Afgan menceritakan kekagumannya terhadap Isyana dan Randy.

“Dari awal diajak buat gabung dan punya ide buat bikin lagu bareng langsung udah berasa banget feel-nya, istilahnya kita satu frekuensi, dan mereka berdua sangat open minded.” ujar Isyana

“Dulu sebelum pindah ke Jakarta, sering banget cover lagu Afgan dan sekarang kerja bareng, sempet merasa sangat gak pede, tapi Afgan ternyata seru banget” tambah Rendy.

 

Tentang Afgan

Afgansyah Reza lahir dan besar di Jakarta pada tanggal 27 Mei 1989 dari keluarga penikmat musik. Karier bermusiknya dimulai di tahun 2008 ketika ia dan teman-temannya membuat sebuah album musik personal di sebuah studio rekaman. Hasil rekaman tersebut menarik perhatian seorang produser untuk mengajak Afgan menjadi penyanyi professional. Dengan warna vokalnya ikonik, dan lewat lagu yang pop romantis seperti “Sadis” dan “Bukan Cinta Biasa”, Afgansyah Reza sukses mendulang kepopulerannya sebagai penyanyi solo terbaik di Indonesia.

Baca: Profil Afgansyah Reza

Mengusung genre musik pop, soul, jazz, dan R&B, Afgan tidak hanya mencuri perhatian penikmat musik nasional tapi juga internasional seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darusalam, Taiwan, dan masih banyak lagi lainnya. Di tahun 2016, Afgan juga sukses melangsungkan konser Asia Tour yang berhasil terjual habis di seluruh Asia.

Sejak kehadirannya sudah beragam penghargaan yang ia dapatkan. Mulai dari MTV Indonesia Awards, Nickelodeon Indonesia Kids Choice Awards, Anugerah Planet Musik, Anugerah Musik Indonesia, dan masih banyak lagi lainnya.

Pada Februari 2018 ini Afgan merilis album DEKADE yang berisikan kumpulan lagu – lagu terbaik selama 10 tahun berkarir. Lagu HEAVEN termasuk ke dalam album tersebut dan di daulat menjadi single pertama.

 

Afgan with Isyana Sarasvati & Rendy Pandugo – Heaven | Video Lirik
https://youtu.be/wIxEEkJZuVU